Reorientasi Nalar Pemuda

0
154

Oleh : A. Najmutsakib *

TREN millennial hari ini telah mengkultuskan dua gelombang pemahaman yang saling bertolak belakang. Pemaknaan yang sederhana pertama mereka yang menganggap agama sebagai penghalang kemajuan islam. Sehingga bila ditafsirkan bila umat islam ingin keluar dari ketertinggalannya maka Label Agama harus dilepaskan. Inilah produk sekulerisme alias anti agama. Kedua adalah kelompok yang senantiasa merefleksikan penentangannya terhadap realitas kehidupan yang sudah menyimpang jauh dari tatanan agama, yang jauh dari nilai – nilai keberkahan, penuh kenistaan dan jalan selamat satu – satunya adalah kembali ke agama. Namun dalam pengejawantahannya dilakukan secara sempit, keras, kaku, memusuhi pihak yang bersebrangan dengan hal – hal yang berbau modernitas. Mereka yang sering kita panggil dengan sapaan fundamentalisme.

Kedua corak yang tumbuh subur ditengah – tengah masyarakat, sangat terasa dominasinya di area perkotaan yang secara lambat laun mulai menggiring ke desa – desa. Tren pemikiran yang akan melahirkan tindakan – tindakan kontraproduktif bagi berbangsa dan bernegara. Tindakan – tindakan yang akan semakin besar efek negatifnya dengan dibumbui isue – isue politik (Pilpres, Pilgub, Pilwalkot dan Pilbup), isue – isue ekonomi (kemiskinan, pengangguran dan keterjepitan ekonomi), hingga tentang isue – isue SARA. Ketidakstabilan dan ketidakadilan merupakan jalan masuk radikalisme lahir serta berkembang.

Radikalisme sudah menjadi penyakit sosial. Radikalisme atas nama agama telah menjadi virus bagi dunia, menjadi ancaman bagi perdamaian serta menimbulkan peperangan baik kelompok maupun antar negara. Kecenderungan kaula muda – mudi untuk mencoba hal – hal yang baru serta keringnya nilai – nilai spritualisme menjadi hal yang menarik bagi kaum Intoleran untuk menjalankan visi misinya. Remaja mudah terpengaruh menjadi titik terlemah, pergeseran nilai dan kebudayaan dewasa kini telah mudah didikte oleh ilmu pengetahuan, dengan mengesampingkan norma – norma dan etika yang berlaku.

Tak bisa dipungkiri, pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Masa depan negeri ini bertumpu pada kualitas pemuda hari ini. Namun ironisnya, ternyata serangkaian aksi “radikal” tak sedikit pemuda yang menjadi pelaku hingga aktor intelektualnya. Rentannya pemuda terhadap aksi kekerasaan dan radikalisme patut menjadi keprihatinan bersama. Penguatan Civic Education jamham sampai menjadi slogan belaka. Dengan menanamkan pemahaman yang mendalam terhada Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI melalui pendidikan kewarganegaraan serta menginternalisasi dengan kearifan lokal seperti tolerasi, semangat gotong royong, nilai – nilai kejujuran serta kepedulian antar warga masyarakat. Peranan pemerintah sangat dibutuhkan secara Pro–Aktif bukan Reaktif. Pendidikan ketuhanan, kemanusiaan dan kebangsaan menjadi mutlak di indonesia karena setiap manusia yang terlahir dibumi indonesia dipasyikan memiliki agama, menjadi seorang manusia sekaligus menjadi bagian sebuah bangsa. Pertauatan antara ketiganya tak bisa dipisahkan dan tentunya tak terjebak terhadap nilai – nilai formalitas buku dan pelajaran di kelas. Melainkan dengan aneka ragam aktivitas yang sengaja di desain untuk mendidik generasi muda dalam kehidupan sehari – hari.

* Penulis adalah Anak muda Nahdlatul Ulama, Santri Ponpes As-Salembaniyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here