Sifat Keberagamaan Manusia

    0
    89

    MENURUT Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA. Produk logika Agama adalah pada ilmu yang bernama fiqih. Ilmu fiqih selalu menggunakan ilmu mantiq (logika) dalam merumuskan hukum-hukumnya, sah tidak sah, halal, haram dan seterusnya. Ketika orang yang berfiqih juga kuat dorongan syahwatnya, maka ia bisa menjadi munafik, karena dalil agama bisa dibelokkan menjadi halal dan haram bergantung pada interestnya.

    Keberagamaan Yang Penuh Perasaan.

    Setiap kali umat dilanda krisis materialisme (Hubbul mal wal jah) maka fenomena tasawuf selalu muncul. Tasawuf merupakan olah rasa dimana merasa dekat dengan Tuhan lebih diutamakan daripada kebenaran logika. Nah ketika seseorang mutasawwif sudah sama sekali tidak memperhatikan logika (fiqih & syari’at) maka ketika ia tertipu oleh perasaannya. Ia merasa sudah mikraj ke langit, padahal ia berada di dalam ruang simulasi jin & setan.

    Keberagamaan Yang Syahwati.

    Manusia dilengkapi Tuhan dengan dorongan syahwat atas lawan jenis, anak, benda berharga, kendaraan mewah, ternak & ladang. Orang sering tidak sadar dalam mengekspresikan keagamaan sesungguhnya mereka di dorong oleh motif syahwati. Ia merasa sangat bersemangat dalam membela syi’ar agama, tanpa di sadari mereka sesungguhnya sedang melalukan pemenuhan syahwat. Bahkan ketika mereka berteriak-teriak membela agama dari ancaman luar atau non muslim, sesungguhnya mereka sedang mengamankan kepentingan syahwat sendiri.

    Keberagamaan Hawiyyi.

    Ali bin Abi Tholib r.a ketika dalam Medan perang jihad sudah hampir berhasil membunuh manusia, tiba-tiba si kafir yang sudah terpojok meludahi wajah Ali dengan ludah yang banyak. Spontan Ali terusik perasaannya dan marah. Begitu sadar sedang dalam kemarahan, maka Ali mengalihkan jihadnya dari membunuh musuh ke menekan hawa nafsunya agar tidak membunuh ketika hati sedang marah, dan musuhnya justru disuruh pergi dari mukanya. Mengapa Ali berbuat demikian? Karena jika Ali membunuh musuh dalam keadaan marah karena diludahi, maka ia tidak lagi sedang berjihad di jalan Allah, tetapi di jalan setan. Karena marah memang media setan dalam menyesatkan manusia. Nah bandingkan dengan apa yang dilakukan dengan Amrozi cs, apakah mereka sedang berjihad atau sedang melalukan perilaku menyimpang. Memerangi hawa nafsu itulah jihad akbar sedangkan perang fisik adalah jihad al ashgar (kecil).

    Keberagamaan Yang Nuraniy.

    Nuraniyyun artinya bersifat cahaya. Nurani atau hati nurani dalam Al-Qur’an disebut bashiroh yang artinya pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala. Nurani bercahaya manakala hati bersih dari kotoran batin. Cahaya nurani menembus sekat ruang dan waktu sehingga ia seperti bisa meramal masa depan. Dalam bahasa tasawuf, orang yang nuraninya hidup dapat melihat dengan penglihatan Tuhan dan dapat mendengar dengan pendengaran Tuhan. Cahaya nurani redup oleh dosa kecil, dan tertutup oleh keserakhan dan maksiat. Orang yang keberagamaannya bersifat nurani pada umumnya ia akrab dengan penderitaan manusia, dan bahkan makhluk. Cahaya nurani merupakan perwujudan dari rahmat Allah dimana ia memperolehnya karena ia menyayangi makhluk Allah. Hal ini selalu diingatkan oleh Nabi, sayangilah yang di bumi, niscaya Tuhan yang di langit akan menyayangimu “irhamu man fil ardhi yarhamukum man fis sama”. Orang yang sadis kepada hewan apalagi kepada manusia pasti nuraninya mati. Jika orang nuraninya mati maka ia seperti orang yang berjalan di tengah kegelapan. Karena di alam kegelapan maka ia tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kegelapan dalam bahasa arab di sebut dzul-dzulumat, orangnya disebut dzalim. Praktek terorisme misalnya dapat dilihat akar sejarahnya pada tokoh syiah ekstrem Hasan bin Sabah dari sekte Hassyasin (1057) yang mengorganisir pemuda untuk melakukan pembunuhan terhadap lawan-lawan politiknya secara tiba-tiba dengan terlebih dahulu menggunakan narkoba.

    Beragama Secara Sehat.

    Kita tidak boleh mengklaim diri sebagai yang terbenar, karena kebenaran hanya milik Allah semata. Tetapi kita dianjurkan untuk selalu mendekati kebenaran sambil tetap mengakui bahwa hanya Allah yang paling tahu terhadap kebenaran (wallahu a’lam bis showab). Tolak ukur kebenaran beragama secara keilmuan adalah apabila kita berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, dan dalam mencari kebenaran tetap mengikuti sistem pemahaman (ijtihad) yang telah dibangun oleh para pendahulu kita.
    Beragama secara sehat adalah beragama yang mengikuti panduan secara komprehensif, vertikal & horisontal, bahkan internal. Perilaku menyimpang dari orang beragama bisa karena gangguan kejiwaan atau karena kesesatan berfikir dan salah merasa. Oleh karena itu, orang beragama dalam hidupnya harus bisa berfikir sehat (logic), senang bertafakkur dan jangan lupa tadabbur. Olah rasa (tasawuf) harus berdiri diatas landasan syari’ah, beragama juga harus berilmu. Mengutip Murtadhlo Muthahari dalam buku ” Allah fi Hayat al insan,” hubungan agama dan ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut : Ilmu mempercepat kita sampai ke tujuan, Agama menentukan arah yang dituju, Ilmu menyesuaikan manusia dengan jati dirinya, Ilmu hiasan lahir, sedangkan agama hiasan batin, Ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan, Agama memberikan harapan dan dorongan bagi jiwa, Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan “bagaimana”, Agama menjawab, yang dimulai dengan “mengapa”, Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya. Sedangkan agama selalu menenangkan jiwa pemeluknya yang tulus.

    Referensi :

    Mubarok, Ahmad, Pusat pengembangan Psikologi Islam, Mubarok Institute. 2012

    Majalah Risalah Nahdlatul Ulama, 2012

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here