Urgensi Melek Media Sosial di Era Keterbukaan Informasi

0
177

MEDIA sosial sudah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Komunikasi melalui media sosial menjadi lumrah dilakukan oleh siapa pun.

Mulai dari pejabat hingga rakyat biasa menggunakan media sosial untuk berkomunikasi. Para pemasar juga juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk. Artinya pesan komunikasi yang disampaikan melalui media sosial sangat beragam. Mulai dari pesan personal sampai dengan pesan niaga, penyebaran ideologi politik.

Namun banyak yang memandang dunia media sosial itu adalah dunia yang berbeda dari dunia nyata. Orang berbicara atau menulis tanpa kendali apapun, bahkan tidak menyadari adanya konsekuensi hukum. Dalam situs http://www.baranews.com misanya di uraikan kasus-kasus hukum yang menimpa pengguna media sosial. Ada sejumlah kasus terkenal dan menarik perhatian masyarakat Indonesia seperti kasus Prita, Yusniar atau kasus yang melibatkan sejumlah pesohor. (Yosal Iriantara {2016:2})

Uniknya, kasus-kasus hukum tersebut, ada yang juga melahirkan gerakan perlawanan melalui media sosial. Kasus Prita menjadi terkenal dan menggerakkan masyarakat untuk berbuat dengan gerakan pengumpulan koinnya. Gerakan koin untuk Prita yang disebarkan melalui media sosial, konon bisa mengumpulkan uang hingga senilai lebih dari Rp 800 juta.

Bukan hanya itu, Hadirnya media sosial juga memberikan wajah baru pada aksi teror yang terjadi saat ini. Jika dahulu, ketika aksi teror pertama kali yang terpublikasikan adalah pembunuhan yang terjadi pada olimpiade 1972 yang dimuat oleh televisi pada waktu itu memberikan ancaman yang begitu besar. Bagaimana dengan kondisi saat ini yang mana informasi dan teknologi komunikasi telah berkembang pesat, pemberitaan melalui Media sosial maupun televisi tersebar dimana-mana. Secara tidak langsung opini publik terkontruksi dari apa yang diberitakan oleh berbagai media mainstream.

Bagi teroris, Kini Media sosial adalah alat komunikasi paling efektif untuk mencapai tujuannya, untuk menebar ancaman, teroris tidak perlu lagi bersusah payah untuk memberikan teror setiap hari, akan tetapi sedikit kutipan di media sosial, sudah memberikan ancaman. Ditambah lagi jika media besar mulai ikut andil, hal tersebut benar-benar menjadi senjata bagi teroris. Tanpa pemberitaan luas media massa, terorisme tidak akan berarti, tidak akan punya gigi dan tidak akan berdampak luas. Apa jadinya jika isu teror tidak disebar luas, masyarakat tidak tahu apa itu aksi teror, seberapa kejam aksi tersebut. terorisme seakan menjadi ‘puzzle’ hilang yang ditemukan kembali.

Tanpa media, isu teror tidak akan menakutkan. Kasus ISIS misalnya dalam membunuh wartawan Amerika yang diunggah ke media sosial dan kemudian media besar ramai-ramai memberitakan kejadian tersebut, pemberitaan secara luas itulah yang justru memberikan ancaman.

Menurut Prof BJ Habibie (2012:45) Terorisme pada masa sekarang, lebih diuntungkan dengan keberadaan media sosial. Proses rekruitmen, pengkaderan dan juga penyebaran teknologi perakit bom, semua ada dan bisa dilakukan melalui media sosial (internet).

Hal ini menunjukkan bahwa media sosial telah berhasil menebar teror. Dengan kata lain, media sosial membuat tugas teroris untuk meneror menjadi lebih mudah dengan cara menyebarluaskan dan menebar ketakutan.

Dalam hiruk-pikuk politik seperti masa seperti masa kampanye menjelang pemilihan umum, para juru kampanye juga memanfaatkan media sosial. Pada masa kampanye politik muncul berbagai pesan di media sosial, mulai dari pesan santun sampai ikatan kebencian, pesan yang mengandung kebenaran sampai pesan bohong yang populer disebut hoax. Makin sering juga sekarang pejabat pemerintah memberikan penjelasan atau menanggapi desas-desis yang menyebar melalui media sosial.

Menurut Dr. Yosal Iriantara (2016:3). Karena kemudahan menyebarluaskan pesan, maka pesan-pesan di media sosial, sekalipun tidak mengandung kebenaran dan cepat menyebar. Sharing menjadi lebih dari saring pesan. Orang tidak sempat berpikir atau menelaah isi pesan yang disebarkannya.

Selain itu, bila timbul masalah kontroversial, maka media sosial juga menjadi saluran komunikasi untuk memunculkan berbagai perspektif. Faktanya sendiri tidak begitu diperhatikan, karena kemudian yang bermunculan di media sosial adalah berbagai perspektif terhadap fakta tersebut. Tentu saja, orang memandang perspektifnya yang paling tepat dan benar untuk satu fakta itu. Antara fakta dan opini pun menjadi tidak bisa dibedakan lagi, dan orang bahkan kemudian tidak memperdulikan lagi mana fakta mana opini yang merupakan perspektif terhadap fakta.

Pro dan kontra memang dianggap wajar untuk satu kontroversi, namun di media sosial bukan pro dan kontra belaka melainkan juga melibatkan pemihakan yang kemudian berubah menjadi yang didukungnya sebagai yang benar dan yang ditolaknya sebagai yang salah. (Yosal Iriantara {2016:3})

Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Kress (2003:1), “The world told is a different world to the world shown”. Lebih dari itu, Donsbach (2008:299) menunjukkan, meski pelbagai hal dikomunikasikan melalui media sosial namun terbukti “efek konten media yang prososial lebih besar dibandingkan dengan efek konten media yang antisosial”. Ini bisa dilihat, bagaimana pesan-pesan yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, ketentraman hidup yang disebarkan melalui media sosial lebih cenderung dibaca dibandingkan dengan pesan yang bernada hasutan atau pesan yang menunjukkan pemihakan.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa kita memang membutuhkan apa yang sekarang populer disebut sebagai melek media, khususnya melek media sosial.

Secara ringkas, banyak pakar yang menyebutkan melek media sosial adalah ketrampilan mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan membuat pesan di media. Artinya, menggunakan media sosial bukan sekedar kemampuan menggunakannya melainkan di balik itu ada kemampuan untuk mengkritisinya dalam bentuk menganalisis isi pesan, seperti tujuan penyebarluasan dan mengevaluasi yaitu mengaitkan pesan dengan nilai-nilai yang berlaku baik secara agama maupun nilai sosial yang berlaku di tengah masyarakat. (Yosal Iriantara{2016:4})

Mengutip pakar melek media Baran (2014:22-24), Art Silverblatt (2008) menunjukkan karakteristik melek media yaitu (a) ketrampilan berpikir kritis yang memampukan khalayak media untuk mengembangkan kemampuan menilai sendiri konten media, (b) memahami proses komunikasi massa, (c) kesadaran atas dampak media terhadap individu dan masyarakat, (d) menguasai strategi-strategi untuk menganalisis dan membahas pesan media, (e) memahami konten media merupakan teks yang memberikan wawasan bagi kita dan kehidupan kita, (f) kemampuan untuk menikmati, memahami dan mengapresiasi konten media, (g) mengembangkan ketrampilan membuat pesan secara efektif dan bertanggung jawab, dan (h) memahami kewajiban etika dan moral praktis media.

Melek media sosial sosial akan menekankan sekaligus menegaskan dan mengingatkan makna komunikasi dalam kehidupan manusia. Komunikasi itu pada dasarnya bertujuan untuk membangun dan mengembangkan kemaslhatan. Karena itu, praktik dan tujuan komunikasi, termasuk melalui media sosial, tidak bisa dilepaskan. Media sosial hanyalah media untuk memudahkan kemungkinan berkomunikasi, meski memang kemudahan itu bisa melahirkan bentuk baru komunikasi dan peluang komunikasi yang hanya untuk mengembangkan dan menunjang kesenangan bertukar pesan.

*Diolah dari sumber terpercaya oleh Akhmad Rifai, beliau adalah Kepala BAANAR Kabupaten Indramayu & Founder Rumah Baca Segeran Literat

Referensi :

Baran, 2014. Media Literacy and Culture 8th Ed. New York : McGraw-Hill.

Donsbach. 2008. The International Encyclopedia PD Communication Malden, MA : Blackwell Publishing.

Media Nusantara, 2016. LPPM Universitas Islam Nusantara, Bandung.

Risalah NU, 2012.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here